Apa Bukti Syukurmu Terhadap Tuhanmu?

Penulis: Musoffa
Selasa, 28 April 2026 | 07.39 GMT+0800 · 10

Apa bukti syukurmu kepada Allah atas seluruh karunia dan anugerah yang diberikan-Nya?

Fabiayyi âlâ’i rabbikumâ tukadzdzibân ...
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Setiap kali membaca ayat ini, saya selalu merenungkan betapa pertanyaan mendalam dan sarat renungan ini menjentik hati terdalam saya.

Tak hanya itu, ayat ini pula yang mengetuk kesadaran saya, betapa pentingnya membuktikan rasa syukur kita terhadap Allah dengan segala kemampuan yang kita miliki.

Marilah sejenak kita renungkan, betapa nikmat yang Allah berikan kepada kita sebegitu tak terhitung, sebegitu banyak dan sebegitu luas, sehingga saking tak terkiranya, kita kerap lupa dan alpa untuk membuktikan rasa syukur kita kepada-Nya.

Sungguh takkan pernah bisa kita mendustakan nikmat yang diberikan-Nya saat hidup dan mati. Kita takkan pernah sanggup menghitung seberapa besarkah nikmat Allah dalam kehidupan ini. Bahkan, kita tak akan pernah mampu mengingat-ingat nikmat apa saja yang dianugerahkan Allah kepada kita.

Buktikan rasa syukur kita dengan menjadi orang yang bermanfaat—yang berfungsi, yang berperan penting. Dengan begitu, kita akan menjadi hamba yang bersyukur; hamba yang membalas kebaikan yang Allah berikan kepada kita.

Cintailah Rasulullah Saw dengan segala kemuliaan pribadinya, cintailah ia dengan meneladani sikap syukurnya; karena ia selalu menempatkan diri sebagai manusia yang bermanfaat untuk lingkungan sekitar.

Kecintaan kita kepada Rasul Saw sejatinya membuahkan keteladanan yang baik dalam diri ini. Minimalnya, kita menjadi teladan untuk anak-anak kita, panutan bagi istri kita, dan atau kebanggaan bagi suami tercinta.

Nabi Muhammad Saw, orang yang seharusnya paling kita cintai dan sayangi melebihi diri sendiri, pernah bersabda,

“Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi sesamanya” (HR Al-Thabarani).

Salah satu bentuk kebermanfaatan kita untuk orang lain adalah dengan menjadi orang yang dapat memenuhi kebutuhan sesama, tetangga kita, dan orang-orang di sekitar kita.

Suatu ketika, Imam Hasan Al-Bashri menyuruh beberapa muridnya untuk memenuhi kebutuhan seseorang. “Temuilah Tsabit Al-Bunani dan pergilah kalian bersamanya.”

Kemudian mereka mendatangi Tsabit yang ternyata sedang itikaf di masjid. Tak disangka-sangka, setelah ditunggu begitu lama, Tsabit meminta maaf karena tidak bisa pergi bersama mereka. Akhirnya, mereka pun kembali lagi kepada

Hasan Al-Bashri dan memberitahukan perihal alasan Tsabit tak bisa pergi bersama mereka.

“Katakanlah kepadanya,” ujar Hasan Al-Bashri, “Hai Tsabit, apa engkau tidak tahu bahwa langkah kakimu dalam rangka menolong saudaramu sesama Muslim itu lebih baik bagimu daripada ibadah haji yang kedua kali?”

Kemudian murid-murid Hasan Al-Bashri kembali menemui Tsabit dan menyampaikan ucapan Hasan Al-Bashri tersebut. Maka, Tsabit pun meninggalkan itikafnya dan pergi bersama mereka untuk membantu orang yang membutuhkan.

Apa yang bisa kita petik dari kisah ini? Bahwa membangun hubungan dengan Allah memanglah penting, tapi membantu orang yang sedang membutuhkan, yang sedang terjepit dalam kesulitan dan kesusahan, juga tidak kalah penting.

Menjadi orang yang bermanfaat bisa dengan menolong saudara kita yang sedang terlilit utang, menyampaikan nasihat kepada orang yang memerlukannya, memberi makan orang yang kelaparan, hingga menyisihkan waktu untuk menengok tetangga yang sakit.

Membangun hubungan dengan Allah memang penting, tapi membantu orang yang sedang membutuhkan, yang sedang terjepit dalam kesulitan dan kesusahan, juga tidak kalah penting.

Rasulullah Saw bersabda, “Sesiapa yang membantu kesusahan duniawi seorang mukmin, Allah akan membantu kesusahannya pada Hari Kiamat nanti. Dan sesiapa yang meringankan kesulitan seorang mukmin, Allah akan meringankannya dalam urusan dunia dan akhirat” (HR Muslim).

Muhammad Saw. ialah manusia utusan-Nya yang diberikan mandat untuk , yakni nikmat Islam. Kehadiran Nabi Muhammad Saw yang menjadi utusan Allah sehingga ajaran Islam dapat kita anut hingga sekarang patut kita syukuri dengan sepenuh khidmat.

Please give me something
Because someday I might know my heart
Know my heart, know my heart, know my heart

Lirik lagu You Give Me Something dari James Morrison ini semoga menancapkan kesadaran kepada kita untuk memberi sesuatu kepada-Nya dan utusan-Nya.

Ketika kita menyadari bahwa diri ini telah diberikan suatu kenikmatan oleh Allah, insya Allah kita akan menjadi hamba yang pandai membuktikan syukur kita kepada-Nya.

Diutusnya Nabi Muhammad Saw ke muka bumi ialah untuk mengeluarkan kita dari kegelapan menuju cahaya; dari kebodohan menuju pencerahan; dari rasisme menuju persatuan; dari permusuhan menuju persaudaraan; dari kehinaan menuju kemuliaan; dan dari tepi neraka menuju taman-taman surga. Ini adalah kenikmatan yang begitu besar.

Pandai-pandailah mensyukuri nikmat yang kita terima; nikmat sehat, nikmat waktu luang, nikmat bernapas, nikmat mengedip, nikmat berjalan, nikmat berlari, dan segala nikmat yang Allah berikan kepada kita.

Seberapa besar kemampuan kita untuk bersyukur, sebesar itu pula nikmat yang akan kita terima. Bukankah Allah menegaskan bahwa nikmat-Nya akan Ia tambah saat kita terampil bersyukur kepada-Nya?

Salah satu bukti kebersyukuran kita adalah dengan berterima kasih kepada orang-orang yang telah berbuat baik kepada kita; kepada orangtua, guru, teman, sahabat, dan siapa saja yang begitu tulus-ikhlas memberi kebaikan kepada kita. Ketika kita terlatih untuk bersyukur atas kebaikan manusia kepada kita, niscaya kita akan begitu terampil bersyukur kepada Sang Pemberi kebaikan.

Pun sebaliknya, jika syukur kita seakan-akan tiada atas kebaikan manusia, berarti kita telah melatih diri kita untuk lupa bersyukur kepada Sang Pencipta manusia.

Ada satu kisah, semoga menginspirasi kita semua. Seorang anak bertengkar dengan ibunya dan meninggalkan rumah. Saat berjalan ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang. Ia melewati sebuah kedai bakmi. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi karena lapar.

Pemilik kedai bakmi melihat anak itu berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu bertanya, “Nak, apakah engkau ingin memesan bakmi?”

“Ya, tetapi aku tidak membawa uang,” jawab anak itu dengan malu-malu.

“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu,” jawab si pemilik kedai.

Anak itu segera makan. Kemudian air matanya mulai berlinang. “Ada apa, Nak?” tanya si pemilik kedai.

“Tidak apa-apa. Aku hanya terharu karena seorang yang baru kukenal memberiku semangkuk bakmi, tetapi ibuku sendiri setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah. Kau seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli kepadaku.”

Pemilik kedai itu berkata, “Nak, mengapa kau berpikir begitu? Renungkan hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi, nasi, dan segalanya sampai kamu dewasa. Seharusnya kamu berterima kasih kepadanya.”

Anak itu kaget mendengar hal tersebut, “Mengapa aku tidak berpikir tentang hal itu? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal aku begitu berterima kasih, tetapi terhadap ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak peduli.”

Anak itu segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas.

Ketika melihat anaknya, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah, “Nak, kau sudah pulang, cepat masuk, Ibu telah menyiapkan makan malam.”

Mendengar hal itu, si anak tidak dapat menahan tangisnya dan ia pun menangis di hadapan ibunya.

Mari kita terus belajar untuk memupuk sikap syukur atas kebaikan apa pun yang kita terima. Terhadap orangtua kita, doakanlah menyayangi mereka sebagaimana AyahAllah-Ibu kita mengasihi diri kita semasa kecil.

Terhadap guru kita, doakanlah agar senantiasa melimpahinya kebaikan atas ilmu yang telah mereka bagi. Terhadap pasangan kita, doakanlah agar Allah senantiasa menjaganya dalam keselamatan dan perlindungan.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Ya Allah, kasihanilah kami dengan rahmat-Mu, wahai Dzat yang Paling Penyayang di antara para penyayang.